Sampah di hidupku

Aku mengelola sampah sudah sejak dulu sebelum aku lahir juga, keluargaku sudah mulai mengelola sampah rumah tangga seperti botol, sachet, sampah organik, non organik, dan lainnya. Selain di keluarga sendiri,keluarga besar ku mengelola sampah juga, tidak hanya di rumahnya sendiri-sendiri tetapi di perusahaan keluarga besarku yaitu Sindang Reret di Ciwidey, Karawang, Lembang dan lainnya mereka mengelola sampah limbah maupun non limbah, kalau di rumahku sendiri yaitu aku mulai mengelola sampah rumah tangga sebelum aku lahir, biasanya yang aku kelola yaitu sampah-sampah biasa di rumah tangga 90% plastic, sebelum ada isu tentang sampah styrofoam, kami, di keluargaku memang sering menggunakan styrofoam untuk kegunaan di rumah. Setelah ada isu tentang styrofoam dinyatakan bahwa sampah styrofoam adalah salah satu sampah yang sangat sulit diurai, aku mulai memakai ulang styrofoam semenjak ada isu tersebut, styrofoam di rumah dijadikan track offroad untuk hotwheel aku di rumah, dengan cara dibentuk dengan cutter, korek api, dan juga gunting. Selain styrofoam juga aku mengelola sampah organik dengan cara sampah organiknya setelah di pakai dan sudah tidak digunakan kembali, kugunakan untuk menjadi tanaman-tanaman herbal di rumah milikku seperti talas, serai, dan lainnya.

Semenjak ibuku mengetahui dengan bahaya dan susahnya memisahkan sampah organik dan non organik maka ibuku membuat dua jenis tempat sampah yaitu tempat sampah non organik dan juga organik, cara membedakannya yaitu yang organik di tong dengan tutupnya sedangkan yang non organik yaitu di plastik yang digantungkan di sebelah komporku yang amat besar, tetapi ada resikonya juga memiliki tempat sampah organik yaitu belatung yang berkembang dengan cepat, kejadian tersebut terjadi di jumat malam kmarin tepatnya pada tanggal 8 September di rumah, setelah pulang sekolah, saat aku mau membuang kulit pisang ke tong sampah organik, aku hendak membuakanya, lalu setelah dibuka di seal tong tersebut terdapat ribuan belatung dan aku sangatlah terkajut, aku pasti otomatis lapoan sama ibuku lah lalu, setalah ibuku melihat juga, ibuku langsung berlali ke kamar mandi untuk mengambil baygon, dan saat disemprot isinya habis, dan saya disuruh beli baygon di Indomaret dan langsung semprot belatung-belatung tersebut. Ya itulah salah satu resimo terbesar sampah organik yang ada di rumah kalian masing-masing.

Ini adalah salah satu pengalamanku tentang pengelolaan sampah tetapi terkait dengan inovasi kreatif jaman sekarang yaitu ecobrick, banyak yang masih bertanya-tanya tentang definisi ecobrick. Dan di saat hari selamatan diadakan kegiatan menyelamatkan bumi untuk tetap sehat dan bebas dari sampah lingkungan yang merisaukan seluruh manusia di bumi saat ini. Di kegiatan selametan kali ini kami tidak mencari jejak untuk peta dan bereksplorsi tentang petualangan, akan tetapi, kali ini kami sekelompoknya akan menggunakan gawai mereka untuk wawancara orang disekitar tahura tentang ecobrick, sejauh mana mereka mengenal ecobrick, lalu bila tahu kapan taunya, apa saja kegunaannya, dan lainnya, dan ternyata kemarin itu sebelum slemata, kami masing-masing diberi misi yaitu membuat ecobrick minimal satu dari tiap keluarga, dan dari seminggu kebelakang aku bersama keluargaku membuat satu ecobrick penuh, dengan cara mengumpulkan sampah-sampah plastik sachet dari sampah kesehariaannya. Dan saat di selametan lucunya itu, ternyata ecobrick itu tidakharus penuh dan juga tidak harus keras sampah-sampah yang didalamnya, karena nanti, bila orangnya bersedia untuk membantu, maka mereka boleh mengambil, dan menjadi salah satu dari pendukung penyelamat bumi. Keluargaku mengalami banyak sekali isu dalam pengerjaan ecobrick yang disuruh dibuat dengan keluragaku, yaitu mulai dari jadwal waktu yang sempit, lalu banyak kegagalan, sampai kekruangan smpah sachetnya.

Kalau pengelolaan sampah mengenai karya minatku yaitu sepatu yang masih work in proggress, sepatu tersebut berbahan dasar kauskaki yang elastis dan kuat, sepatu hotel bekas, dan pola batik dari kain batik yang sudah tidak dipakai lagi dan setelah itu, produk tersebut akan menjadi salah satu alternatif hidu yang simpel ataupun mudah.

Dan yang terakhir itu adalah pengelolaan sampah dari karya kelompok proyek di sekolah, sebenarnya memebuat diorama akan tetapi lebih ke arah ramah lingkungannya jadi beberapa bahan itu dari bahan bekas dari plastik maupun plastik. Tema diorama kelompok aku yaitu limbah dari batik sintetis yang dapat mencemari lingkungan namun ada alatnya untuk mengurai air tersebut jadi bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s